Sejarah Psikologi Islam, Bagaimana Memahami Jiwa Seseorang dari Perspektif Islam

psikologi islam

Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat tidak hanya berkiblat pada ilmu pengetahuan dari barat saja. Seperti misalnya ilmu psikologi Islam menurut Kampus Psikologi. Perkembangan ilmu pengetahuan itu pun mulai banyak yang diintegrasikan dengan ajaran agama Islam, sebab Islam dapat diterapkan pada semua aspek kehidupan. Sejarah Psikologi Islam tidaklah sesederhana penggabungan antara ilmu psikologi dari perspektif islam saja, karena adanya pendapat dan perdebatan bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat objektif tanpa adanya unsur nilai tertentu di dalamnya.

Sejarah Perkembangan Psikologi Islam

Di awal abad ke-20 perspektif pertukaran antara ilmu pengetahuan dan budaya mulai berkembang di negara barat. Namun sayangnya, ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan di negara barat ini memiliki kekurangan jika diterapkan pada masyarakat timur. Adanya modernisasi justru mengesampingkan aspek spiritual yang justru menimbulkan gejala depresi yang semakin menyebar.

Karena itulah kemudian timbul kesadaran bahwa unsur spritiual penting dalam kehidupan manusia. Para ilmuwan Islam kemudian memiliki kesempatan untuk menuangkan pemikirannya dan menggali ilmu pengetahuan kembali berlandaskan ajaran agama Islam.

Perkembangan itu jugalah yang kemudian melahirkan integrasi antara ilmu psikologi dengan Islam yang melahirkan ilmu Psikologi Islam. Meski sejarah Psikologi Islam tidak sepopuler perkembangan psikologi dari barat, namun ilmu ini terus dikembangkan dengan menerapkan metode dan memiliki karakternya sendiri.

Perkembangan sejarah psikologi Islam tidak lepas dari dasar pedoman hidup yang senantiasa dipegang teguh oleh umat muslim dimanapun berada, yaitu Al-Qur’an dan hadist, serta pemikiran dari ilmuwan-ilmuwan psikologi Islam sebelumnya. Dengan pedoman ini, seharusnya Psikologi Islam bisa berkembang dengan lebih pesat dan sempurna dibandingkan dengan ilmu Psikologi yang dikembangkan oleh ilmuwan barat.

Pendekatan dalam Memahami Jiwa Individu dalam Islam dan Keilmuannya

Berbicara tentang psikologi tentu tak bisa dilepaskan dari ilmu yang mempelajari jiwa seorang manusia. Dari sisi sejarah psikologi Islam sendiri, setidaknya terdapat 3 corak pendekatan yang bisa digunakan dalam memahami jiwa seorang manusia dari sudut pandang keilmuan Islam. Tiga corak yang dimaksud antara lain:

  1. Pendekatan Qurani Nabawi
Baca Juga:  Ali Bin Abi Thalib RA

Corak pendekatan pertama yang digunakan untuk memahami jiwa manusia adalah pendekatan Qurani Nabawi. Pendekatan ini menyebutkan bahwa jiwa seorang manusia dapat dipahami dengan merujuk pada keterangan yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Tentu saja, sebab Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah dua pedoman dasar yang digunakan sebagai sumber segala kehidupan manusia. Segala hal yang ada di bumi dan isinya ini pada dasarnya bisa ditemukan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Maka sudah sepatutnya jika menjadikan dua pedoman dasar dalam kehidupan manusia ini juga sebagai salah satu corak pendekatan yang digunakan untuk mempelajari jiwa seorang individu.

Pendekatan Qurani Nabawi ini lebih pada sifat yang universal dari manusia seperti syahwat terhadap lawan jenis, hal-hal yang berkaitan dengan materi, ketakutan akan kematian dan lain sebagainya. Tak hanya itu saja, dalam pendekatan ini juga dipelajari pula tentang sebab dan akibat yang ditimbulkannya.

  • Pendekatan Filosofis

Corak pendekatan selanjutnya yang juga digunakan dalam memahami jiwa seorang manusia adalah pendekatan filosofis. Pada pendekatan ini, segala permasalahan yang berkaitan dengan jiwa seorang manusia akan dibahas dan dielaborasikan dengan pandangan dari para filsuf dari Yunani. Mengapa harus menggunakan pandangan dari para filsuf Yunani klasik?

Kembali lagi, bahwasannya, Psikologi Islam adalah sebuah ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan klasik namun dipelajari dari perspektif islam sebagai dasar lain yang digunakan untuk mempelajarinya. Maka, jika pemikiran dari para filsuf Yunani klasik masih digunakan dalam pendekatan ini pun sah-sah saja, sebab memang dasar dari pemikiran dan ilmu psikologi juga berasal dari sana.

Pendekatan filosofis ini juga digunakan sebab tak sedikit pula pemikir muslim yang mendapat pengaruh dari pemikiran Aristoteles dan teori-teori jiwa yang dikemukakan oleh Plato. Rasanya wajar jika hal tersebut dilakukan sebab, pemikiran Aristoteles yang mengupas tentang persoalan jiwa dibahas dengan begitu rinci.

  • Pendekatan Sufistik
Baca Juga:  Sunan Drajat

Pendekatan terakhir yang digunakan dalam memahami jiwa manusia dalam Psikologi Islam adalah pendekatan sufistik. Pendekatan ini akan menjelaskan tentang jiwa manusia dan permasalahan yang mungkin dialaminya berdasarkan pada pengalaman spiritual oleh ahli-ahli tasawuf.

Sementara itu, pendekatan sufistik ini sifatnya lebih eksperimental dan praktis jika dibandingkan dengan pendekatan filosofis. Ada berbagai kitab yang menjelaskan tentang bagaimana pandangan pemikiran para filsuf tentang kondisi dan permasalahan kepribadian maupun yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang.

Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang sejalan dengan perkembangan jaman. Tidak hanya tentang modernisasi atau westernisasi saja, bahkan perkembangan yang mengarah pada hal-hal yang bersifat spiritual. Seperti contohnya Psikologi Islam. Dalam perkembangan sejarah Psikologi Islam memang tidak bisa dilepas dari pemikiran psikologi klasik, sebab tak bisa dipungkiri, pemikiran dan teori yang dituangkan oleh pemikir klasik ini pun begitu rinci. Namun kemudian pemikiran tersebut dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi di masa ini.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *