Pahlawan Wanita Nasional

Pahlawan Wanita Nasional

Posted on

Kisahsejarah.idPahlawan Wanita Nasional yaitu suatu penghargaan yang di berikan oleh seseorang yang penting dalam perjuangan dalam memerdekakan Indonesia yang di berikan kepada seorang wanita.

Namun banyak yang belum siapa saja Pahlawan Wanita Nasional ? Maka pada kesempatan kali ini kami akan membahas artikell tentang pahlawan wanita indonesia.

Biografi Singkat Pahlawan Wanita Nasional

1. CUT NYAK DHIEN

BIODATA

  1. Nama: Cut Nyak Dhien
  2. Tanggal Lahir : Selasa, 0-1-1848
  3. Tempat lahir : Lampadang, Aceh
  4. Ayah : Teuku Nanta Seutia ( seorang bangsawan yang agamis yaitu keturunan seorang uleebalang VI mukmim)
  5. Suami : Teuku Cak Ibrahim Lamnga ( putra uleebalng Lamnga XIII)
  6. Jumlah Anak: satu

Masa Perjuangan Pahlawan Wanita Nasional melawan Belanda

Teuku Ibrahim meninggal dalam perang merebut darah VI mukim, hal ini membuat Cut Nyak Dhien marah dan berjanji akan menghancurkan Belanda dan akan melanjutkan perjuangan suaminya untuk dapat memimpin perang. Setealah Belanda menyatakan perang pada tahun 26 Maret 1873.

Karena melihat semangat Cut Nyak Dhien, Teuku Umar yang merupakan salah satu pejuang Aceh menjadikan rekan perjuangnya dan menjadikan istrinya dan menikahinya pada tahun 1880 dan dari pernikahannya ini di karuniani seorang anak.

Baca Juga : Tokoh Nasional Indonesia

Lalu merekan membangun kembali kekuatan dan meningkatkan semangat pejuang dalam melawan Belanda. Bahkan meraka di sebut pasangan yang berbahaya oleh Belanda. Akan tetapi Teuku Umar meninggal dalam perangnya pada tahun 11 Febuari 1899.

Hal ini membuat pasukan Cut Nyak Dhien melemah karena mendapatkan tekanan yang terus menerus. Dengan kondisi kesehatan Cut Nyak Dhien yang melemah membuat Belanda dapat menangkapnya di Le Sageu dan mengasingkannya ke Sumedang.

Akhir Hayat

Pada tanggal 6 November 1964 Cut Nyak Dhien meninggal dunia. Sebelum wafat pada saat berada di perasingan beliau mendapatkan perhatian dari para tahanan dan bupati Suriaatmaja. Beliau merupakan seorang muslimah yang ahli dalam ilmu agama bahkan belia mendapatkan julukan “Ibu Perbu”

Beliau mengajarkan tentang agama islam dan bahkan beliau merahasiakan dirinya bahwa beliau merupakan seorang putri Sultan Aceh. Dan presiden Soekarno (Presiden Nasional Indonesia) memberikan SK Presiden kepada Cut NYak Dhien RI No.106 tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Baca Juga : Kisah Bung Tomo

2. Cut Nyak Meutia – Aceh

Cut Nyak Meutia terkenal dengan semangat pejuang tinggi dan memiliki tekad yang kuat dalam mengusir penjajah. Beliau lahir di Keuretoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870.

Masa Perjuangan

Bersama dengan suaminya Cut Nyak Meutia melawan Belanda, suami yang bernama Teuku Muhamad (Teuku Tjik Tunong). Mereka merupak pasangan pejuang yang kompak dalam berjuang melawan Balanda.

Akan tetapi Teuku Muhamad tertangkap oleh Belanda dan di hukumi mati yang berda di teepi pantai Lhpkseumawe. Dan Pang Nagro sahabat Teuku Umar mendapatkan wasiat agar menikahi istrinya dan merawat anaknya sebelum Teuku Umar di hukumi.

Dan Pang Nagro akhirnya menikahi Cut Nyak Meutia sesuai dengan wasiat yang di sampaikan oleh Teuku Umar. Dan mereka begabung bersama Teuku Muda Gantone dalam melawan Belanda.

Akan tetapi pada tanggal 26 September 1910 Pang Nagro menninggal dalam perangnya melawan Korps Marechausee di Paya Cicem. Dan bersama para wanita lainnya Cut Nyak Meutia melarikan diri ke dalam hutan dan mereka berhasil selamat dari Belanda.

Akhir Hayat

Cut Nyak Meutia tetap melakukan perlawanan dan berjuang melawan Belanda bersama dengan pengikutnya. Merekan menyrang dan merampas pos-pos kolonial sepanjang perjalanan ke Goya melewati hutan.

Akan tetapi pada pertempranya di Alue Kurieng tanggal 24 Oktober 1910 Beliau di nyatakan meninggal setelah tertembak peluru. Dan beliau mendapatkan penghargaan pahlawan Nasional Indonesia SK presiden RI NO 107 tahun 1964 atas jasa-jasa beliau dalam melawan Belanda yang terjadi pada peristiwa G30S/PKI 1965.

Baca Juga : Sejarah Pancasila

3. Raden Ajeng Kartini – Jepara

Biodata

  1. Nama : Raden Ajeng Kartini
  2. Tanggal Lahir : 21 April 1879
  3. Tempat Lahir : Jepara
  4. Ayahnya : R.M. Sosroningrat (Bupati Jepara)
  5. Ibunya : M.A. Ngasirah
  6. Pendidikan : ELS ( Europese Lagere School)

Masa Perjuangan

R.A. Kartini melihat banyak diskriminasi banyak wanita dan laki-laki tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bahkan ada perempuang yang tidak di perbolehkan mengenyam pendidikan sama sekali.

Hal ini yang membuat Kartini tertarik untuk memajukan perempuan pribumi seperti perempuan Eropa, karena melihat perempuan saat itu perempuanya berada di status sosial yang sangat rendah.

Akhir Hayat

Pada saat usianya mencapai 24 tahun beliau di nikahkan oleh orang tuanya dengan seorang Bupati Rembang yaitu K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Dalam pernikahnaya mereka mempunyai satu anak yang bernama Soesalit Djojodhiningrat, dan pada saat melahirkan anaknyalah Kartini meninggal.

Setelah wafatnya Kartini tidak membuat pelopor emansipasi wanita berakhir. Abendanon salah satu temannya mengumpulkan surat-surat yang pernah di kirimkan kepada teman-temannya yang di Eropa.

Surat-surat itu di bukukandan di beri judul “Door Duisternis tot Licht” yang mempunyai arti “Dari kegelapan menuju Cahaya“. Dan kemudian di terbitkan kembali dengan versi baru yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dan buku ini juga mulai di terbitkan agar tidak melupakan perjuangan R.A.Kartini. Dan hal ini membuat Presiden Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No.108 tahun 1964 di berikan pada tangga, 2 Mei 1964.


4. Raden Dewi Sartika – Jawa Barat

Raden Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Beliau terlahir dari pasangan Raden Somanegara dengan Raden Ayu Permas. beliau merupakan yang menjadi salah satu tokoh pendidik bagi kaum wanita.

Masa Perjuangan Pahlawan Wanita Nasional Reden Dewi

Raden Dewi Sartika dalam perjuanya beliau sejak usia 18 tahun. Pada 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sekol Istri ( Sakola Perempuan). Kemudiaan Sekol Istri berubah namanya menjadi Sakola Keutamaan Istri, dan pada tahun 1929 berubah nama lagi mrnjadi Sakola Raden Dewi.

Beliau mengajarkan membaca, menulis, menjahit dan memasak kepada perempuan-perempuan di kotanya. Dan sekol beliu menyebar di kabupaten Pasunda dan bahkan di luar pulau Jawa.

Raden Dewi Sartika mempunyai tujuan agar kelak bisa membuat ibu rumah tangga menjadi ibu yang baik, cerdas, terampil, luwes, dan kelak mampu berdiri sendiri. Untuk berjalannya sekolah Beliau mencari dana sumbangan, dan banyak pihak yang mendukung terutana suaminya yaitu Raden Kanduruan Agah Suriawinta.

Akhir Hayat

Raden Dewi Sartika mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 1 Desember 1966. Atas jasa-jasanya dalam perjuangannya untuk mencerdaskan bangsa. Dan pada tanggal 11 September 1947 di Tasikmalaya beliau menghembuskan napas terakhirnya.

Baca Juga : Tuanku Imam Bonjol


5. Martha Christina Tiahahu – Maluku

Martha Christina Tiahahu merupakan putri seorang kapiten Paulus Tiahahu yang merupakan salah satu pejuang yang ikut berperang dalam perang Patimura melawan Belanda pada tahun 1817. Marta Chritina Tiahahu lahir di Maluku, pada tahun 4 Januari 1800.

Masa Perjuangan

Beliau merupakan salah satu pejuang wanita yang pemberani. Ketika umur 17 tahun Martha sudah berani melawan para penjajah yang mendampingi para pejuang pria dalam perebutan wilayah dengan Belanda di desa Ouw.

Beliau dapat membunuh pemimpin perang yang di bunuh oleh pasukan Martha. Dan hal ini membuat Belanda semakin marah dan terus menjajah Maluku, hingga akhirnya pasukan Maluku di kalahkan. Dan ayah Martha di tahan dan di beri hukuman mati.

Martha berusaha membebaskan ayahnya. Akan tetapi Belanda dapat menangkap para pejuang rakyat Maluku. Hingga akhirnya ayah Martha meninggal dengan hukuman mati tersebut.

Akhir hayat

Jasad Martha hanya di buang ke laut, ketika meninggal dalam perjalananya menuju pulau Jawa. Pada tanggal 2 Januari 1818 martha meninggal dunia. Dan beliau mendapatkan penghargaan Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya untuk Indonesia.


6. Maria Walanda Maramis – Minahasa

Maria Walanda Maramis sejak umur 6 tahun sudah menjadi anak yatim piatu, sehingga beliau di rawat oleh pamanya. Beliau lahir di Kema Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872. Maria hanya menempuh pendidikan sampai SD.

Masa Perjuangan

Beliau gemar bergaul dengan kaum-kaum terpelajar, seperti Pendeta Ten Hove sehingga dapat memperluas ilmu pengetahuannya. Beliau mempunyai keinginan agar dapat memajukan kaum wanita.

Maria Walanda Maramis menikah dengan Yoseph frederik Calusung Walanda ( seorang guru). Pada bulan Juli 1917 beliau dapat mendirikan sebuah organisasi yang beranama ” Penciptaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) berkat bantuan dari suami dan para pelajar lainnya.

Organisasi ini mengajarkan mengatur rumah tangga, memasak, menjahit, merawat bayi dan pekerjaan tangan. Dan hal ini di sambut baik oleh masarakat, dan berkembang dengan cepat.

Akhir Hayat

Atas perjuangnya dalam mencerdaskan generasi bangsa maka beliau mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indosedia. Dan Maria Walanda Maramis meninggal di Maumbi pada 22 April 1924.

Baca Juga : Pangeran Diponegoro


7. Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan – Yogyakarta

Siti Walidah lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan merupakan anak dari Kyai Haji Fadhil ( Pemuka Agama Islam) yang lahir di Yogyakarta tahun 1872.

Beliau menikah dengan Kiyai Haji Ahmad Dahlan dan di karunia enam orang anak dari pernikahannya

Masa Perjuangan

Kedekatan Nyai Ahmad Dahlan dengan tokoh Muhamadiyah dan tokoh pemimpin bangsa lainya membuat beliau memudahkan untuk menyebarkan agama islam.

Kemudian beliau membuat organisasi pengajian wanita yang bernama Sopo Tresno. Dan berubah menjadi nama Aisyah, organisasi yang di dalamnya tentang islam tepatnya pada malam Isra Mi’raj (22 April 1917). Kemudian Aisyah resmi menjadi bagian dari Muhamdiyah setelah lima tahun berjalan.

Akhir Hayat

Nyai Ahmad Dahlan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional setelah beliau meninggal pada tanggal 31 Mei 1946. Dan untuk menghormati jasa-jasanya yang telah memperluas agama islam dan mendidik perempuan.


8. Nyi Ageng Serang – Yogyakarta

Sejak kecil Nyi Ageng Serang memilik rasa nasionalisem yang tinggi untuk mengusir Belanda. Beliau lahir dari seorang pangeran yaitu Pangeran Natapraja (Bupati Serang Yogyakarta). Beliau lahir di Serang pada tahun 1752.

Masa Perjuangan

Di usianya 73 tahun Nyi Ageng di angkat sebagai pinisepuh dalam perang, pada saat meletusnya Perang Dipenogoro (1825-1830). Usia tidak menjadikan penghalang untuk memimpin perang, bahkan beliau memipin perang gerilya di desa Beku.

Dan pengeran Diponegoro mengangkat sebagai penasehat. Dalam menyusun siasat perang bersama dengan :

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Pangeran Joyokusumo

Akhir Hayat

Di usianya ke 76 beliau mengundurkan diri dari medan perang karena usia dan kondisi fisik yang semakin melemah dan menetap di rumah keluarga di Nataprajan di Yogyakrta. Dan atas jasa-jasanya belia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.


9. Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta

Hj.Rangkayo Rasuna Said merupakan pejuang wanita yang gigih dalam memperjuangkan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Masa Perjuangan

Rangkayo Rasuna Said merupakan salah satu pejuang yang gigih yang mempunyai pikir kritis. Bahkan beliau orang pertama wanita yang mendapat hukuman Speek Delict yaitu hukuman dari pemerintahan Belanda bagi siapa saja yang menentang Belanda.

Kemudian setelah itu beliau aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonessia. Bahkan beliau menjadi anggota Dewan pada tanggal 5 Juli 1959.

Akhir Hayat

Atas jasa-jasa yang telah beliau berikan Rasuna Said mendapatkan gelar Pahlawan Nasional atau Pahlawan Wanita Nasional. Hingga pada akhirya Rasuna Said menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, sampai beliau meninggal pada tanggal 2 November 1965.

Beliau mempunyai satu putri yaitu Auda Zasckhy Duski. dan 6 cucunya yaitu:

  1. Kurnia Tiara Agusta
  2. Anugerah Mutia Rusda
  3. Moh.Ibrahim
  4. Moh.Yusuf
  5. Rommel Abdillah
  6. Natasha Quratul’Ain


10. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto – Jawa Tengah

Hj. RA Fatimah Siti Hartinah merupakan istri Presiden Indonesia kedua yaitu Jendral Purnawira Soeharto. Lahir di Desa Jaten Surakarta Jawa tengah pada tanggal 23 Agustus 1923. Yang di lahirkan dari pasangan yang bernama KPH Soemoharjomo dan RA Hatmanti Hatmohaedjo.

Masa Perjuangan

Jepang masuk ke Solo membuat beliau mengikuti kursusu bahasa Jepang dan bergabung dengan Laskar Putri Indonesia. Setelah umurnya mencapai 23 tahun Soeharto datang ke rumah dan menikahinya. Dan mereka menikah pada tanggal 23 Januari 1949.

Dan mereka pindah ke Yogyakarta untuk melaksanakan tugasnya di sana. Dan Tien mendapatkan seorang putri pertama yang bernama Siti Hardiyanti Hastuti.

Akhir Hayat

Siti Hartinah meninggal dunia karena serangan jantung yang beliau derita pada tanggal 28 April 1966. Setelah mendampingi presiden Soeharto selama 47 tahun. Dan mendapatkan gelar sebagai Pahlwan Nasional setelah jasa-jasanya untuk Indonesia.


11. Hj. Fatmawati Soekarno – Bengkulu

Fatmawati merupakan lahir di pribumi pada tanggal 5 Febuari 1923, beliau lahir dari pasangan Hassan Din (tokoh Muhamadiyah di bengkulu) dan Siti Chadijajah (Putri Indrapura).

Fatmawati otomatis menjadi ibu negara karena di nikahi dengan bapak presiden Indonesia pertama yaitu Soekarno pada tanggal 01 Juni 1943. Dan Fatmawati merupakan istri ketiga dari Soekarno, dan mereka di karunia lima orang anaka yaitu:

  1. Guntur Soekarnoputra
  2. Megawati Soekarnoputri
  3. Rachmawati Soekarnoputri
  4. Sukmawati Soekarnoputri
  5. Guruh Soekarnoputra.

Masa Perjuangan

Fatmawati mengikuti suaminya ke Jakarta untuk berperan aktif dan bergabung bersama para tokoh pejuang Nasional untuk kemerdekaan Indonesia. Soekarno selalu meminta pendapat dari fatmawati.

Bahkan Fatmawati semangat relaktif sambil mengendong anak pertama Moh.Guntur yang masih kecil untuk mrninggalkan Jakarta menuju Rengasdengklok mengikuti Soekarno menjelang kemerdekan pada 15 Agustus 1945. Dan ibu Fatmawati ialah yang menjahit bendera pertama kali.

Akhir Hayat

Fatmawati meninggal di Kuala Lumpur di usian 57 tahun karena serangan jantung pada tahun 14 Mei 1980. Dan nama Fatmawati kini di jadikan sebuah Rumah sakit di Jakarta dan Bandara Udara Indonesia.


12. Opu Daeng Risaju – Sulawesi Selatan

Opu Daen Risaju (Famajjah) beliau merupakan Pahlawan Wanita Nasional yang lahir dari pasangan Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng yang lahir pada tahun 1880.

Setelah menikah dengan suaminya yang bernama H.Muhammad Daud beliau mendapatkan gelar. Dan nama Opi Daen Risaju merupkan simbol kebangsawanan kerajaan Luwu.

belia tidak pernah memperoleh pendidikan formal di bangku sekolah seperti sekolah Belanda. Namun meskipun buta dengan huruf latin , namun beliau paham tentang Al-Quran, Fiqih , Nahwu Sharaf.

Masa Perjuangan

Karena ketertarikanya terhadap dunia politik maka Opu menjadi anggota PSII cabang pare-pare pada tahun 1927. Beliau pun terpilih sebagai ketua PSII karena keaktifannya di wilayah Tanah Luwu daerah palopo pada tanggal 14 Januari 1930.

Opu menjadikan agama sebagai landasan dalam memipin PSII sehingga Belanda menahan Opu dan tidak dapat melanjtkan perjuangannya di dalam PSII. Pihak Belanda menganggap bahwa Opu menghasut rakyat agar tidak percaya kepada pemerintah. Dan akhirnya Opu di cabut gelar kebangsawananya dan di penjarakanselam 14 bulan pada tahun 1943.

Akhir Hayat

Opu kembali aktif berdama pemuda Sulawesi Selatan untuk dapat melawan NICA. Karena keberanianya Opu menjadi buronan Belanda dan akhirnya Opu di siksa hingga menjadi tuli dan di jadikan tahanan luar.

Hingga pada akhirnya Opu menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 10 Febuari 1964. Dengan hal ini maka beliau mendapatkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga Kisah Lengkap Budi Utomo

Wanita Hebat Asal Sumatera Barat dan Termasuk Pahlawan Wanita Nasional


Rohana Kudus

Rohani Kudus merupakan perempuan yang mempelopri emansipasi kaum wanita yang berpengaruh di Sumatra Barat, beliau seperti R.A.Kartini. Beliau merupakan seorang guru, penulis, wirausaha, pendiri sekolah perempuan, dan seorang pemimpin redaksi dari sebuah surat kabar perempuan.

Dengan perjuangannya yang luar biasa beliau juga mampu menguasai tiga bahasa asing yaitu bahasa Belanda, Arab Melayu dan Arab Latin.


Rahmah El Yunusiyah

Rahmanh Ei Yunusiyah adalah seorang perempuan yang pertama kali mendapatkan gelar Syaikhah dari Univesitas Al-Azhar Mesir, pada tahun 1957.

Dan beliau merupakan tokoh ulam yang berasal dari Sumatra Barat, yang menjadi bukti perjuanganya hingga kini yang masih tetap eksis yaitu Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang.


Siti Manggopoh

Siti Manggopoh merupakan pejuang yang di takuti pada saat itu, karena dengan kebaniannya beliau menentang terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting).

Hal ini di anggap bertentangan dengan adat Minangkabau, karena tanah merupakan milik kaum minangkabau. Akibat hal ini terjadilah perang Belasting, yang membuat Belanda kewalahan dan pasukan Minangkabau berhasil menewakan 53 orang serdadu dengan siasat yang di atur oleh Siti Manggopoh pada 16 juni 1908.


Refresensi

Pahlawan Wanita Nasional
saya adalah sorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di lampung. Dan saya sedang menuntut ilmu kumputer dan saat ini saya lagi gemar menuntu ilmu terutama di bidang komputer.saya juga ikut bergabung di dalam organisasi organisi seperti Developer Muda, Gerakan Pemuda Sedekah. Dan saat ini saya sedang menyalurkan hobi saya di bidang menulis sekaligus menambah ilmu pengetahuan saya di bidang cerita rakyat dan dongen anak.