Kisah Malin Kundang

Kisah Malin Kundang

Posted on

Kisahsejarah.id, Kisah Malin Kundang merupakan salah satu kisah yang di dalam kisahnya banyak mengandung pembelajaran dan suri tauladan yang baik. Yang kisahnya dapat di jadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-jari. Maka dari itu penulis pada kesempataan ini akan menulis tentang Kisah Malin Kundang, semoga bermanfaat.

Malingg Kundang

Pada suatu ketika pada zaman dahulu ada sebuah cerita yang terdapat di sebuah perkampungan nelayan pantai Air Manis yang berada di daerah padang (Sumatra Barat). Di daerah tersebut hiduplah seorang janda bersama anaknya yang berna Mande Rubayah. Sedangkan anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang.

Selain itu Malin Kundang merupakan serorang anak yang penurut, malin kundang juga anak yang rajin maka dari itu ibunya sangat menyayanginya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Mande Rubayah bekerja untuk menjual kue.

Pernah suatu ketika pada saat Malin Kundang jatuh sakit, sakit yang parah bahkan nyawanya hampir tidak bisa di selamatkan. Namun sang ibu berusaha keras untuk menyelamatkan sehingga akhirnya Malin Kundang terselamatkan. Setelah sembuh dari sakit sang ibu semakin menyayanginya dan mereka saling menyayangi.

Pada saat Malin Kundang beranjak dewasa Malin Kundang meminta izin kepada ibunya untuk merantau karena pada saat itu kebetuulan ada kapal besar yang berlayar di Pantai Air Manis.

Ketika mendengar permintaan anakanya yang ingin merantau membuat hati ibunya menjadi sedih. “Jangan, Nak, ibu takut akan terjadi sesuatu denganmu di sana Malin Kundang, tetap disini lah nak bersama ibu”. Kata ibu dengan nada yang sedih.

Mendengar jawaban ibu dengan penuh rasa khawatir Malin Kundang berusaha untuk menyakinkan ibunya bahwa dia akan baik-baik saja di tanah rantau. ” Ibu, Ibu tidak akan terjadi apa-apa denganku bu, Ibu tenang ya jangan khawatir” Ucap Malin Kundang untuk menyakinkan ibunya.

Baca juga : Kisah Gundala Sang Putra Petir

 

Merantau

Kemudian Malin Kundang memegang tangan ibunya untuk dapat meyakinkan dan meminta izin ke ibunya ” Ibu, Ibu ini kesempatan Malin Kundang bu, Bu Malin Kundang ingin merubah nasip kita bu, belum tentu ada kapal yang akan bersinggak di pantai ini bu dalam setahun sekali seperti ini bu” Ucap Malin agar dapat meyakinkan ibunya.

Mendengar permohonan anaknya akhirnya sang ibu luluh hatinya dan memerikan izin kepada Malin Kundang dan memberi izin untuk merantau.

Kemudian setelah itu Malin Kundang berangkat ke tanah rantau dan sang ibu membekali nasi 7 bungkus untuknya. Setelah keberangkatanya Malin Kundang hari-hari sang ibu terasa sepi dan lama. Setiap pagi dan sore sang ibu memandang laut dan penuh tanya dalam hati “sampai mana anakku berlayar? dan sang ibu hanya mampu mendoakan di kala rindu dan berharap anaknya cepat pualng.

Setiap waktu dan setiap ada kapal yang berlayar sang ibu selalu menanyakan kabar tentang Malin Kundang kepada nahkoda di kapal tersebut. Namun ketika bertanya tak ada orang ya mengetahui tentang Malin Kundang bahkan Malin tak memberikan pesan atau kabar kepada sang ibu.

Bertahun-tahun waktu berlalu sang ibu Mande Rubayah terus bertanya dan mencari kabar tentang sang anak Malin Kundang. Akan tetapi usahanya belum mendapatkan hasil hingga saat ini sang ibu sudah mulai tua, dan kini jalanya pun mulai terbungkuk.

Setelah itu kemudian tidak berselang lama sang ibu mendengar kabar bahwa kapal yang dulu membawa Malin Kundang akan singgah kepantai dan membawa kabar bahagia tentang malin Kundang. Mendengar hal itu sang ibu sangat senang.

Kemudian bertemulah dengan seorang yang telah membawa Malin Kundang dahulu waktu akan pergi merantau. Dan kemudian dia  menyampaikan bahwa sekarang Malin Kundang sudah menikahi seorang putri bangsawan yang cantik dan juga kaya raya wanita itu.

Kerinduan yang ibunya pendam semakin rindu ketika mendengar berita yang di dengarnya. ” Nak, cepat pulang Nak, Ibu rindu, Ibu sudah tua, kapan kamu pulang Nak”. rintihan rindunya di setiap malam. Dengan keyakinan bahwa anaknya akan pulang.

Keyakinan itu ternyata benar tidak lama kemudian, di pagi dengan suasana cerah ada sebuah kapal berlayar kapal yang megah dan mewah dan juga besar. Dari kejauhan kapal itu tampak berlayar ke tepi. Melihat itu semua penduduk kampung berkumpul untuk melihatnya.

Mereka berbondong-bondong untuk melihat kapal tersebut dengan mengira bahwa kapal tersebut adalah kapal seorang sultan atau milik seorang pangeran. Mereka senang, menyambut dengan gembira akan kedatangan kapal tersebut. Tak lupa juga Mande Rubyah yang berharap kapal itu anaknya Malin Kundang yang akan menjenguk ibunya.

Ketika kapal sudah mulai menepi mulai terliahat sepasang anak muda di anjangan. Pakaian yang di gunakan sangat indah dan mewah ketika terkena pancaran sinar matahari. Dengan senyuman yang sangat manis dan indah di raut wajahnya terlihat tergambar kebahagian.

Baca Juga : Sejarah Lawang Sewu

Selain penduduk kampung Mande Rubayah juga ikut serta berdesakan mendekati kapal untuk melihat kapal siapakah itu. Pada saat Mande Rubuyah melihat laki-laki itu jantungnya berdebar keras. Mande Kundang sangat yakin bahwa laki-laki itu adalah anaknya yaitu Malin Kundang. Melihat hal itu kemudian Mande Rubuyah menghampirimya dan kemudian memeluk erat Malin Kundang.

Dengan rasa haru sang ibu menyampaikan kerinduannya ” Nak. Anakku mengapa kau begitu lama kau tak memberi kabar kepada ibu Nak. Anakku Malin Kundang Ibu begitu rindu Nak” dengan rasa haru isak tangisnya. Akan tetapi melihat kondisi ibu nya yang sudah tua, dengan menggunakan pakaian kusam dan compang-camping, justru tidak percaya bahwa dia adalah ibunya.

Melihat apa yang di sampaikan ibu itu kemudian istrinya meludah dan menatap dengan tatapan yang sinis, dan dia tidak mempercayai bahkan marah ketika tahu bahwa dia adalah ibunya ” Mengapa kau bohong kepada ku dulu, jika ini adalah ibumu? Lalu mengapa kau mengaku bahwa kamu adalah anak dari seorang bangsawan yang kaya raya, yang sederajat denganku” dengan nada marah.

Setelah itu ketika mendengar apa yang di ucapkan istrinya membuat Malin Kundang merasa marah dan malu. Dan akhirnya Malin Kundang mendorong ibunya sampai jatuh ke pasir “Dasar wanita gila! Aku ini bukan anakkmu”. Ucap Malin Kundang dengannada marah.

Kisah Malin Kundang

Setelah perlakuan Malin Kundang kepada ibunya Mande Rubuyah membuat ibunya tidak percaya dengan apa yang telah di lakukannya. Ibunya berusaha meyakinkanya bahwa dia adalah ibunya. Namun itu semua sia-sia karena tidak di hiraukan oleh Malin Kundang.

Kemudian Mande Rubayah pingsan dan penduduk desa pun pergi dan kapal mereka pun meninggalkan pantai itu. Ketika sang ibu terbangun belia melihat kondisi lautan sekitar terlihat sepi dan terlihat kapal Malin Kundangpun jauh dari tepi Pantai itu.

Hati Mande Rubayah begitu terluka dan sakit karena anak yang selama ini di besarkan dengan kasih sayang, dan anak yang di rindukan kepergiannya selama ini justru tidak mengingatnya. Dengan semua apa yang telah beliau korban kan dan perjuangkan. Kemudian sang ibu menadah ke langit dan berdoa ” Ya tuhan, aku iklas dan memaafkan atas apa perbuatan mereka kepadaku jika memang benar dia bukan anakku, Akan tetapi jika dia adalah anakku maka aku meminta ke adilanmu untukku ya Tuhan”. doa yang di sampaikan dengan menangis.

Dalam Kisah Malin, Kundang Kemudian tidak lama dari doanya cuaca di tengah laut berubah yang awalnya cerah kini berubah menjadi gelap, bahkan selain itu hujan yang sangat deras pun turu. Disertai badai dengan sangat besar yang menabrak kapal yang di gunakan Malin Kundang. Dan bahkan kapal tersebut di sambar petir yang sangat kuat. Sehingga membuat kapal itu hancur menjadi berkeping-keping, dan terbawa ombak sampai ke pantai.

Kemudian setelah ke esokan harinya ketika badai sudah reda . Terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu, yang berada di kaki bukit. Terlihat sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Dan Kisah Malin Kundang yang mendapat kutukan karena telah durhaka kepada ibunya Selain itu di sela-sela batu itu terdapat ikan -ikan yang berenang, dan di percayai ikan-ikanitu berasal dari serpihan istri Malin Kundang.