Kesultanan Banten

Kesultanan Banten

Posted on

Kisahsejarah.id, – Kesultanan Banten merupakan kerajaan yang mampu berdiri selama 3 abad di masa kejayaannya. Namun banyak yang belum mengetahui tentang sejarah kerajaan banten.

Pada kesempatan artikel hari ini kami akan membahas tentang Kerajaan Banten, Sejarah Kerajaan Banten,Perang Saudara, dan lain sebagainya.


Sejarah

Islam Masuk ke Banten dan Pendiri Kerajaan Banten

Arti jihad (perang) bukan hanya perang melawan musuh-musuh saja, Namun perang melawan hawa nafsu juga merupakan berjihad. Hal ini yang membuat masarakat tertarik dengan penjelasan dari pendiri kerajaan banten yaitu Syekh Syarif Hidayatullah(Sunan Gunung Jati) dengan Pangeran Walangsungsang.

Baca Juga : Kerajaan Pajajaran

Wahanten merupakan nama lain dari wilayah Banten pada masa itu, yang merupakan awal kedatanganya di daerah Cirebon. Wahanten memiliki dua penguasa yaitu:

  • Sang Surosowan (anak dari Prabu Jaya atau Silih Wangi) penguasa di Wilayah Pasisir
  • Arya Suranggana yang menjadi penguasa umum wilayah Wahanten Girang.

Di Wahnaten Pasisir Syarif Hidayatullah menikah dengan seorang peremnpuan yang bernama Nyai Kawung Anten yang merupakan putri dari Sang Surosowan. Dan kemudian di berikan dua orang anak yaitu:

  • Ratu Winaon lahir pada tahun 1477M
  • Pangeran Maulana Hasanudin, yang merupakan nama pemberian dari sang kakek. Dan pangeran lahir tahun 1478M.

Pada tahun 1479 Syarif Hidayatullah kembali ke Cirebon untuk menjadi penguasa Kesultanan Cirebon. Yang sebelumnya telah rapat di Tuban yang mendapatkan hasil bahwa menjadikan Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin dari pada para wali.

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Islam


Penguasaan Banten

Maulana Hassanudin membangun kompleks istanan yang di sebut Keraton Surosowan, alun-alun, pasar,serta masjid agung, dan masjid yang berada di pacitan pada tahun 1522.

Arya Surajaya yang merupakan paman dari Maulana Hasanudin di perkirakan memegang pemerintahan Wahanten Pasisir hinga pada tahun 1526, setelah Sang Surosowan meninggal pada tahun 1519.

Bergabungnya Sunan Gunung Jati bersama pasukan yang dari Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak sampai di pelabuhan Banten. Pada saat di Wahanten Girang, seorang kepala pajurit penting yaitu Ki Jongo memihak Maulana Hasanudin.

Akibat dari dakwah Maulana Hasanudin menyebabkan penguasa umum Banten Girang merasa terganggu. Dan sehingga penguasa umum meminta agar Maulana Hasanudin untuk menghentikan dakhwanya.

Dan kemudian Ary Suranggana pun menantang Maulana Hasanudin untuk sabung ayam. Jika sabung ayam di menangkan oleh penguasa maka Maulana Hasanudin harus menghentikan dakwahnya. Namun jika sabung ayam di menangkan oleh Maulan Hasanudin maka dakwahnya dapat di lanjutkan.

Dan sabung ayam di menangkan oleh Maulana Hasanudin sehingga dakwahnya tetap berlanjut. Dan Ary Suranggana dan masarkat kemudian masuk hutan di wilayah Selatan karena menolak masuk islam.

Peninggalan-peninggalan Ary Suranggana sampe abad ke-17 masih di gunakan oleh kompleks Banten Girang sebagai pesanggrahan oleh para penguasa islam.

Baca Juga : Kerajaan Majapahit


Penyatuan Banten

Sultan Maulana Hasanudin di berimasukan atau di perintahkan oleh sang ayah ( Sunan Gunung jati) Untuk Memindahkan Pusat kota ke Komple Surosowan.

Pada tahun 1526 kompleks istana Surosowan akhirnya selesai. Dan Ary Suraja juga memberikan kekuasaan atas wilayah Wahanten Pasisir kepada Sunan Gunung Jati. Sehingga wilayah Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir di satukan menjadi Wahanten yang kemudian di sebut sebagai Banten dengan posisi sebagai dapaten atau propinsi.

Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon dan pengurusan wilayah di serahkan kepada anaknya yaitu Maulana Hasanudin. Sunan Gunung Jati sultan pertama di Banten, hal ini di nyatakan oleh para ahli salah satunya yaitu Hoesein Djajainingrat.

Semenjak Kesultanan Islam menguasai Banten dan Sunda Kelapa, maka Banten ramai di kunjungi oleh kapal dari berbagai negara, hal ini di kemukukan oleh seorang ahli yang bernama Joao de Barros.

Sehingga pada tahun 1552 Mualana Hasanudin di angkat menjadi sultan di wilayah Banten oleh ayahnya yang bernama Syarif HIdayatullah atau yang di kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Baca Juga : Kerajaan Majapahit


Banten sebagai kesultanan

Lampung merupakan daerah penghasil lada. yang dijadikan untuk sebagai perluasaan kekuasaan oleh Maulana Hasanudin. Yang sangat berperan dalam penyebaran islam di kawasan itu. sultan Maulana Hasanudin juga memilikin hubungan baik dengan Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar syeh. untuk melakukan perdagangan.

Pada tahun 1570 anak dari Maulana Hasanudin yaitu Maulana Yusuf di angkat untuk melanjutkan ekspansi Banten. Dan pada tahun 1579 Maulan Yusuf dapat menaklukan Pakuan Pajajaran.

Padaa tahun 1596 ia di gantikan anaknya yaitu Maulana Muhamad yang mencoba menguasai Palembang, dengan tujuan mempersempit gerakan Portugal, akan tetapi hal itu gagal karena ia meninggal dalam penaklukan tersebut.

Sulatan Banten mengirimkan surat kepada Raja Inggris, James I pada tahun 1605, dan kepada Chales I pada tahun 1629. Hal ini di lakukan agar ada hubungan yang intensif. Pada tahun 1638 gelar “Sultan” dengan nama arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir gelar pertama yang di oleh anak Maulana Muhamad.


Puncak kejayaan

Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dalam menopang Perekonomiannya mengandalkan perdagangan. Perdagangan lada di Lampung membuat banten sebagai perdagangan perantara yang membuat kesultanan Banten berkembang pesat, karena menjadi salah satu pusat perdagangan.

Banten menjadi kawasan Multi-Etnis karena perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara. Negara-negara yang membantu yaitu:

  • Inggris
  • Denmark
  • Tionghoa
  • Persia
  • India
  • Siam
  • Vietnam
  • Filipina
  • Tiongkok
  • Jepang

Pada tahun 1651-1682 pada masa Sultan Ageng Tirtayasa merupakan masa kejayaan Banten. Yang pada masa itu juga berusaha keluar dari tekanan VOC, yang telah melakukan blokade kapa-kapal dagang yang akan menuju Banten.

Baca Juga : Kerajaan Islam di indonesia


Perang saudara

Perang saudarai antara sultan Ageng dan Sultan Haji tidak dapat di elakkan yang hal ini di manfaatkan Oleh VOC, dan memberikan Dukungan kepada Sultah Haji

Sulatan Haji dan Sultan Abu Nashar Abdul Qohar mencari dukungan serta bantuan persenjataanya pada tahun 1682 dengan cara mengirim 2 orang utusanya untuk menemui Raja Inggris di London.

Sultan Ageng dalam perang ini terpaksa mundur dari istananyan dan pindah ke kawasan yang di sebut Tirtayasa, yang pada tahun 28 Desember 1682 kawasan ini dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC.

Sultan Ageng pindah ke pedalaman Sunda bersama putranya. Akan tetapi pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap dan di tahan di Batavia. Voc terus mengejar dan mematahkan pengikut Sultan Agung.

Untung Suropati beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Jhannes Maurits Van Happel, yang berhasil menawan Syekh Yusuf. Pangeran Pubaya menyatakan menyerahkan diri setelah meresa terdesak.

Untung Suropati di utus untuk menjemput Pangeran Pubaya ke Batavia, Namun meraka berjumpa dengan pasukan VOC yang di pimpin oleh pasukan Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaan di antara meraka yang menyebakan kehancuran pasukan Willem Kuffeler dan untung suropati menjadi buronan Voc, dan pangeran Prabu sampai ke Batavia sendiri.


Penurunan

Pada tahun 12 Maret 1682 terjadi pembayaran yang di lakukan Sultan Haji kepada VOC untuk bantuan dan dukungan yang telah di lakukan dalam perang. Bahkan wilayah Lampung di serahkan kepada VOC yang tertera dalam surat yang di berikan oleh Mayor Issac de Saint Martin.

Selain surat juga di kuatkan dengan perjanjian yang membuat VOC mendapatkan hak monopoli perdagangan lada di lampung pada tanggal 22 Agustus 1682. Selain itu juga Sultan Haji harus menganti rugi akibat perang sesuai perjanjian pada tanggal 17 April 1684.

Hal ini sangat berdampak di dalam kesultanan Banten apalagi setelah Sultan Haji meninggal pada tahun 1687. Bahkan untuk pengangkatan sultan harus dengan perjanjian Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia.

Pangeran Abidin mendapatkan gelar Sultan Abul Mahasin (Kang Sinuhung ing Nagari Banten) setalah pengangkatannya menjadi sultan. Setalah ia menggantikan saudaranya yang menjabat selama 3 tahun sebagai sultan yaitu Sultan Abu Fadhl Muhammad.

Pada masa pemerintahan Sultan Abu Fathi Muhamad Syifa Zainul membuat terjadi perlawan yang memuncak akibat dari perang saudara yang terjadi. Ketidak setabilan pemerintahan, konflik antara penguasa. Yang terjadi yaitu di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa.

Akhirnya akibat konflik yang terjadi yang tak kunjung reda maka Sultan Banten kembali meminta bantuan dari VOC untuk meredam perlawanan rakyatnya, sehingga sejak tahun 1752 banten menjadi vasal dari VOC.


Agama

Banyak masarakat Banten yang di pengaruhi oleh kerajaan yang meyakini Hindu-Budha yaitu:

  • Kerajaan Tarumanegara
  • Kerajaan Sriwijaya
  • Kerajan Sunda

Seiring dengan dengan hal itu tarekat maupun tasawuf berkembang baik di Banten. Dengan begitu banyak tradisi yang di perkembangan islam di masarakat hal ini terlihat pada kesenian bela diri Debus. Kesultanan Banten mempunyai silsilahh sampai ke Nabi Muhammad dan selain itu ulama juga mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan Islam di banten.

Walaupun di Banten di dominasi oleh muslim, akan tetapi sifat toleransi dalam agama berkembang sangat baik. Bahkan komunitas tertentu di perkenankan membangun peribadahan mereka. Pada tahun 1673 bahkan telah mencapai beberapa klenteng di kawasan sekeliling Banten.

Baca juga : Kerajaan Demak


Kependudukan

Jumlah penduduk yang banyak serta multi-etnis membuat kemajuan Keselutanan Banten. Yang di mulai dari Jawa, Sunda, dan Melayu. Dan kelompok etnis Nusantara yaitu Makasar,Bugis dan Bali.

  • Sumber Eropa menyatakan Banten di perkirakan antara 100.000 – 200.000 laki-laki yang siap bertempur pada tahun 1672
  • Sumber lain menyatakan sebanyak 10.000 orang siap memanggul senjata.
  • Namun sumber yang paling banyak di percaya pada Dagh Register yang di lakukan sensus oleh VOC , menyatakan yang mampu memngangkat senjata sekitar 55.000 dari keseluruhan penduduk sebanyak 150.000 pada tahun 1673.

Banyak masarakat yang mencari sukai dan bekerja di daerah Banten . Dengan membangun pemukiman yang berada di pinggiran pantai dan sungai dengan jumlah yang lebih banyak daripada masarakat india dan arab.


Perekonomian

Selain hasil dari perdagangan maka untuk pembangunan ekonomi Banten, maka pembukaan sawah mulai di buka untuk daerah pedalamaan. Karena masarakatnya banyak di topang dengan hasil ladang dengan istilah lain yang sering di gunakan yaitu:

  • Pahuma (Peladang)
  • Penggerak (Pemburu)
  • Penyadap (penyadap)

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Singasari

Dengan perlataan yang di gunakan yaitu kujang, patuk, kored, baliung, dan sadap. Untuk mengembangkan pertanian maka pada masa Sultan Ageng antara 30 – 40km kanal baaru di bangun dengan tenaga kerja sebanyak 16.000 orang.

Hal ini terjadi pada tahun 1663 dan 1667, bahkan antara 30 – 40.000 hektar sawah perkebunan kelapa di tanam. Dan 30.000 an petani di tempatkan di atas tanah tersebut.

Kehidupan Banten menjadikan Banten sebagai kota metropolitan dengan jumlah kekayaan yang di miliki dan penduduknya yang banyak menjadikan kota tebesar di dunia. Yang terjadi pada yahun 1678.


Refresensi

kesultanan-banten

saya adalah sorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di lampung. Dan saya sedang menuntut ilmu kumputer dan saat ini saya lagi gemar menuntu ilmu terutama di bidang komputer.saya juga ikut bergabung di dalam organisasi organisi seperti Developer Muda, Gerakan Pemuda Sedekah. Dan saat ini saya sedang menyalurkan hobi saya di bidang menulis sekaligus menambah ilmu pengetahuan saya di bidang cerita rakyat dan dongen anak.