Sejarah Kesultanan Aceh

Kesultanan Aceh

Posted on

Kisahsejarah.id, Aceh merupakan salah satu pintu masuknya agama islam. Bahkan Aceh banyak yang mengenal dengan sebutan Serambi Mekah. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang Sejarah Kesultanan Aceh.


Sejarah Singkat

Awal Mula

Kerajaan Aceh berdiri di wilayah Kerajaan Lamuri, yang dapat menyatukan wilayah yang ada di sekitar kerajaan,yaitu Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Sultan Ali Mughayat Syeh pendirinya pada tahun 1496.

Salahudin mengantikan ayahnya Ali Mughayat di tahun 1528, berkuasa hingga tahun 1537. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar mengantikan Salahudin yang berkuasa hingga tahun 1571.


Masa Kejayaan

Sultan Sri Alam di gulingkan sebab perilakunya yang telah melampaui batas dalam mebagikan harta kerajaan terhadap pengikutnya di tahun 1579. Walaupun Sultan di anggap penguasa tertinggi, namun masih bisa di kendalikan orang kaya atau Hulubalang.

Karena Kekejaman dan kecanduannya berburu dan adu binatang membuat penggantian Sultan Zainal Abidin terbunuh. Akan tetapi ia segera memperkuat posisisnya sebagai penguasa tunggal Kesultanan Aceh yang bahkan dampaknya di rasakan sampai sekarang. Dengan mengakhiri ketidak stabilan dengan cara menyingkirkan orang kaya yang berlawan.

Baca juga : Kisah Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

Pada tahun (1607-1636) kepemimpinan Sultan Iskandar Muda atau Sultan Meukuta Alam. Kerajaan Aceh dapat menaklukan Pahang yang mempunyai sumber timah utama. Penyerangan terjadi pada tahun 1629 terhadap Portugis di Malaka menggunakan 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut.

Penyerangan ini di lakukan agar memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan Semanjung Melayu. Namun meskipun pada tahun yang sama Aceh banyak membawa penduduknya ke Aceh, kenyataannya ekspedesi kali ini gagal.

Pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid memperkuat posisi kekuasaan Aceh dengan cara mengirim banyak surat ke berbagai pemimpin seperti Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I.


Kemunduran

Jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu ke tangan Belanda, menjadi salah satu faktor kemunduran Aceh. Namun faktor terpenting yaitu perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan, pada tahun 1641.

Baca juga : Kerajaan Islam di indonesia

Pada tahun 1824 Traktat London di tanda tangani, yang isinya telah memberikan kekuasaan kepada Belanda untuk mengudsai kawasan British/Inggris di Sumatra, dan Belanda berjanji tidak akan menandingi British/Inggris dalam mengusai Singapura, dan menyerahkan kekuasaan mereka di India.

Di ciptakan Traktat Sumatra yaitu” Inggris melepas dari kekuasaan Belanda di bagian Sumatra. Pembatasan Trakat London 1824 di batalkan” Traktat ini pada akhir November 1871.

Pada akhirnya Aceh jatuh ke Hindia-Belanda setelah 40 tahun menjajajah, Soekarno berhasil membujuk untuk menyatakan bergabung ke dalam repoblik Idonesia.


Perang Aceh

Belanda menyatakan perang Aceh pada tanggal 26 Maret 1873 namun hal itu tidak berhasil walaupun anacaman diplomatik di lakukan. Dan perang kembali terjadi pada tahun 1883, dan Belanda menyatakan telah gagal dalam merebut Aceh.

Baca Juga : Kerajaan Samudra Pasai

Belanda mulai melepaaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal Citadel Van Antwerpen. Belanda mendarat di Pante Ceureumen di pimpin oleh Johan Herman Rodulf Kohler, dapat menguasai masjid Raya Baiturrahman. dengan membawa 3.198 tentara dan 168 di antaranya para perwira.


Pemerintahan

Sultan Aceh

Awal mula kedudukan Aceh di Gampong Pande, dan kemudian pindah di ke dalam Darud (di sekitaran Pendopo Gubernur Aceh sekarang) . Namun akibat terjadinya perang Belanda pindah ke Keumala (daerah pedalaman Pidie).

Sultan baru sah jika sudah membayar “Jiname Aceh” yaitu berupa emas 32 kati, uang tunai 1600 ringgit, kerbau beberapa puluh ekor, dan gunci padi. Untuk menjadi Sultan maupun di turunkan harus atas persetujuan oleh Tipa Panglima Sagoe dan Teuku Kafi Malikul Adil( Mufti Agung kerajaan).

Keris dan cap merupakan tanda dari di sahkannya seorang sultan. Tanpa lambang keris itu maka tidak ada pegawai yang bertugas melaksanakan perintahnya. Dan tanpa Cap tidak ada peraturan yang mempunyai hukum.


Perangkat Pemerintahan

Kesultanan Aceh


Perekonomian

Perekonomian Aceh memiliki banyak jenis penghasilan, di antaranya yaitu:

  • Minyak tanah dari Deli,
  • Belerang dari Pulau Weh dan Gunung Seulawah,
  • Kapur dari Singkil,
  • Kapur Barus dan menyan dari Barus.
  • Emas di pantai barat,
  • Sutera di Banda Aceh.

Banyak juga terdapat pandai emas,tembaga, lumbung padi di Pidie, namun di antara semua itu lada yang menjadi komoditas unggulan untuk di ekspor.


Kebudayaan

Arsitektur

Tidak banyak yang bisa di lihat di bangunan peninggalan kesultanan Aceh, akibat dari perang. Yang hanya bisa di lihat sampe saat ini di antaranya yaitu: Masjid Tua Indrapuri, Pinto Khop, Leusong dan Gunongan dipusat Kota Banda Aceh.


Sastra

Banyak sastra yang bisa di lihat di antaranya yaitu:
Bustanus Salatin (Taman Para Sultan) karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniry disamping Tajus Salatin (1603), Sulalatus Salatin (1612), dan Hikayat Aceh (1606-1636
Asrar al-Arifin (Rahasia Orang yang Bijaksana), Syarab al-Asyikin (Minuman Segala Orang yang Berahi).


Karya Agama

Tafsir Alqur’an Anwaarut Tanzil wa Asrarut Takwil, karangan Abdullah bin Umar bin Muhammad Syirazi Al Baidlawy ke dalam bahasa jawa yang di terbitkan oleh Syaikh Abdurrauf.

Syaikh Daud Rumy dengan Masailal Muhtadin li Ikhwanil Muhtadi. Syaikh Nuruddin Ar-Raniry telah menulis 27 kitab dalam bahasa melayu dan arab. Yang paling terkenal adalah Sirath al-Mustaqim,


Militer

Mampu memproduksi meriam sendiri dari kuningan. Yang pada awalnya di kirim beberapa teknisi senjata ke aceh. pada masa Sultan Selim II.


Refresensi

Download : Materi Kesultanan Aceh

saya adalah sorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di lampung. Dan saya sedang menuntut ilmu kumputer dan saat ini saya lagi gemar menuntu ilmu terutama di bidang komputer.saya juga ikut bergabung di dalam organisasi organisi seperti Developer Muda, Gerakan Pemuda Sedekah. Dan saat ini saya sedang menyalurkan hobi saya di bidang menulis sekaligus menambah ilmu pengetahuan saya di bidang cerita rakyat dan dongen anak.