Kerajaan-Cirebon-Larang

Kerajaan Cirebon Larang

Posted on

Kisahsejarah.id –  banyak yang belum mengetahui tentang Kerajaan Cirebon Larang yang merupakan salah satu kerajaan yang ada di Indonesia. Maka pada kesempatan saat ini  penulis akan membahas tentang Kisah Kerajaan Cirebon Larang semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan pembaca.

Kerajaan Cirebon Larang

Kerajaan Cirebon Larang merupakan  cikal bakal dari kerajaan Kesultanan Cirebon. Selain itu Kerajaan Cirebon Larang merupakan sebuah kerajaan pra-islam yang berada di wilayah Cirebon yang pada saat itu berada di bawah Kerajaan Pajajaran.

Pada saat itu awal mulanya yaitu ketika Raden Walangsungsang yang meminta izin kepada Ki Gedeng Tapa (Penguasa Singhapura), kemudian setelah mendapatkan izin beliau membangunlah tempat untuk di jadikan pemukiman, karena hal ini kemudian secara administratif Cirebon  Larang terpisah dengan Singhapura, yang pada saat itu sebelun terpisah hanya berstatus Pakuwuan dan Mandala Murajati.

Pada saat itu lokasi Cirebon merupakan sebuah kawasan hutan yang berada di wilayah Cirebon. Oleh karena itu Raden Walangsungsang dengan bantuan 52 orang penduduk membuka tempat pemukiman di sana, hal ini terjadi pada tahun 1445 M.

Selain itu terdapat sungai yang cukup besar yang berada tidak jauh dari lokasi Cirebon, kali itu yang bernama Kali Kriyan selain itu tidak sedikit penduduk yang mencari ikan di sana.

Baca Juga :Kisah Prabu Siliwangi

Sejarah Terbentuknya Keajaan Cirebon Larang

Kerajaan-Cirebon-Larang2

Pada saat sebelum pemukiman Cirebon Larang di dirikan oleh Raden Walangsungsang, terdapat sebuah wilayah yang telah berdiri di situ yaitu pakuwuan yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singhaoura yang di pimpin oleh Ki Danusela.  Karena Raden Walangsungsang dengan ilmu dan kecakapanya sehingga membuat pakuwuan dapat berkembang dan juga tertata rapi.

Selain itu KI Danusela di jadikan sebagai kuwu pertama  di Cirebon Larang, hal ini di karenakan jabatan yang telah beliau sandang sebelum Raden Walangsungsang datang dan dapat mendirikan  pemukiman baru. Hal ini membuat Ki Danusela di hormati oleh warga setempat dan juga Raden Walangsungsang sendiri.

Raden Walangsungsang menikahi seorang wanita yang bernama Nyi Arum Sari Cirebon Girang yang merupakan seorang putri dari Ki Gedeng Danuwarsih( adik dari Ki Danusela). Di dalam pernikahanya itu Raden Walangsungsang mendapatkan seorang putri yang bernama Nyi Retna Riris.

Kemudian pada tahun 1448M, pada saat Raden Walangsungsang telah membangun tempat pemukiman baru dan telah berkembang dan semakin maju kemudian Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama dengan adiknya yaitu Nyai Larasantang.

Karena Nyai Indang Geulis dalam keadaan sedang mengandung maka beliau tidak di ikut sertakan. Pada saat setelah dari menunaikan ibada haji Raden Walangsungsang sangat bahagia karena istrinya Nyai Indang Geulis melahirkan seorang putri yang kemudian di berikan nama yaitu Nyai Pakungwati.

Sedangkan di pernikahanya dengan Nyi Rasa Jati beliau  mendapatkan anak yang bernama:

  1. Nyi Lara Konda
  2. Nyi Lara Sejati
  3. Nyi Jati Merta
  4. Nyi Mertasinga
  5. Nyi Campa
  6. Nyi Rasa Melasih

Baca Juga : Nyi Subang Larang

Raden Walangsungsang di angkat menjadi kuwu cirebon yang ke-2 pada saat setelah Ki Danusela meninggal. Kemudian Raden Walangsungsang menikah lagi dengan putri Ki Danusela dengan tujuan agar dapat  mengislamkan keluarganya Ki Danusela tersebut. Di dalam pernikahanya  dengan putri Ki Danusela yang bernama Ratna Riris mendapatkan seorang putra yang di beri nama Pangeran Cerbon yang kemudian setelah dewasa menjadi kuwu di Cirebon.

Pada saat Raden Walangsungsang menjabat beliau menunjukan ilmu dan kecakapanya. Raden Walangsungsang dapat memajukan desanya dan dapat berkembang pesat sehingga membuat banyak pendatang dari suku lain. Selain itu banyak penduduk yang berpindah agama yang pada saat itu banyak yang berdominan agama Hindu. Sehingga untuk dapat meningkatkan penyebaran agama islam  maka Raden Walangsungsang mendirikan masjid yang bernama Masjid Jalagrahan pada tahun 1456M ( Masjid tertua di Cirebon).

Setelah beberapa tahun Prabu Jayadewata ( raja pajajaran ) yang merupakan ayah dari Raden Walangsungsang mengetahui tentang penyebaran agama islam, namun hal itu tidak dii permasalahkan oleh Prabu Jayadewata.

Baca Juga : Kisah Wali Songo

Raden Walangsungsang medapatkan tugas untuk meneruskan mengatur Pelabuhan Muara Jati dan untuk dapat menyatukan wilayah kerajaan Singapura  dengan wilayanh pakuwuan Cirebon Larang dalam satu kukuasaan pada saat setelah wafatnya Ki Gedeng Tapa (Kerajaan Singhapura).

Kemudian Raden Walangsungsang untuk dapat mengamankan dan agar dapat mempertahankan Pelabuhan Muara Jati maka Raden Walangsungsang membentyk  satuan keamanan dan ketertiban. Selain itu pelabuhan semakin ramai sehingga membuat pemasukan pendapatan ke kerajaan Pajajaran semakin besar.

Kemudian Raden Walangsungsang membuat sebuah keraton yang bernama Keraton Pakungwati yang nama tersebut di ambil dari salah satu nama putrinya.

Keraton Pakungwati di buat sangat indah dengan  kompleks keraton yang di dalamnya terdapat taman sari juga pemandian tempat para putri keraton untuk membersihkan diri.

Raden Walangsungsang di nobatkan sebagai raja daerah dengan gelar yang di dapat sebagai Tumenggung Sri Mangana Cakrabuana, sehingga hal itu membuat status Pakuwuan Cirebon Larang berubah menjaadi kerajaan yang berada di bawag kekuasaan Pajajaran.

Baca juga :Sunan Gunung Jati

Kesultanan Cirebon

Setelah agama islam berkembang, maka Larasantang bersama dengan suami ( Syarif Abdullah) pulanglah ke Cirebon yang telah lama tinggak di Mesir. Tidak hanya itu mereka juga bersama putranya yang telah dewasa (usian 26 tahun) yang bernama Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah pernah belajar islam pada usia 20 tahun di Mekkah selama 2 tahun Syarif Hidayatullah berguru kepada Syekh Tajumudin AL Kubri, yang setelah tu berguru dengan Syekh Ataillah Syazali. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan ke Bagdad untuk mencari ilmu selama 2 tahun belia belajar sebelum akhirnya sampai di Cirebon.

Selain itu Syarif Hidayatullah juga mengajarkan agama islam di Bagdad dan di sana Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Babadan yang merupakan putri Ki Gedeng Babadan yang kemudian di nikahinya.

Syarif Hidayatullah mengajarkan agama islam di tatar Pasunda yang kemudian di kenal sebagai Syekh Maulana Jati (Syekh Jati) yang pada saat itu menggantikan Syekh Datuk Kahfi yang telah meninggal.

Kemudian Syarif Hidayatullah menikah lagi dengan Nyimas Pakungwati dan juga Nyai Lara Baghdad setelah meninggalnya Nyai Babadan. Di dalam pernikahanya dengan Nyi Lara Baghdad beliau mendapatkan 2 orang putra yaitu:

  1. Pangeran Bratakelana (Pangeran Gung Anom)
  2. Pangeran Jayakelana

Kemudian Syarif Hidayatullah mengajarkan islam di Banten, Bupati Kawungan yang bernama Arya Surajaya dan beliau menerima ajaran agama islam dengan terbuka. Setelah itu adik Arya Suraja yang bernama Nyai Kawunganten di nikahi oleh Syarif Hidayatullah.

Kemudian pada tahun 1479M Syarif Hidayatullah kembali ke Cirebon setelah melakukan penyebaran agama islam di Cirebon. Kemudian Syarif Hidayatullah di kirim oleh Raden Walungsung sang untuk pergi ke Kesultanan Demak yang ada di Pulau Jawa yang di pimpin oleh Raden Patah untuk menyerap ilmu pengetahuan di sana. Dengan tujuan agar dapar memimpin wilayah Cirebon agar mandiri tidak di bawah kekuasaan Pajajaran lagi.

Tidak hanya itu Syarif Hidayatullah juga menikah dengan Nyi Tepasari yang merupakan putri dari Ki Ageng Tepasan (pembesar Majapahit). Dalam pernikahanya ini beliau mendapatkan dua orang anak yaitu:

  1. Nyi Mas Ratu Ayu
  2. Pangeran Mohamad Arifin