Biografi Mohammad Natsir, Ulama, Pemikir dan Pemimpin Islam Indonesia

Mohammad Natsir

Nama Mohammad Natsir merupakan sosok yang memiliki peran dan pengaruh besar dalam sejarah Indonesia. Tercatat, beliau pernah menjabat sebagai mantan perdana menteri kelima di Indonesia. Beliau adalah tokoh ulama, intelektual serta negarawan yang sangat disegani. Selain pernah menjabat sebagai perdana menteri, beliau juga pernah dipercaya memimpin partai Masyumi di tahun 1945 hingga dibubarkan pada tahun 1960.

Keluarga dan Masa Muda Mohammad Natsir

 Mohammad Natsir lahir dari ayah yang memiliki latar belakang sebagai pegawai pemerintahan bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan ibunya bernama Khadijah. Lahir di Solok Sumatera Barat pada tanggal 17 Juli 1908, Natsir kecil memiliki keinginan kuat untuk belajar. Terbukti dari riwayat pendidikannya yang pernah merasakan bersekolah di HIS Adabiyah Padang. HIS ini sendiri merupakan sekolah yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda.

Beberapa bulan di HIS Adabiya, Natsir kemudian pindah lagi ke HIS di Solok hingga selesai. Di Solok ini jugalah beliau melanjutkan pendidikan hingga jenjang Madrasah Diniyah, sambil tetap melanjutkan pendidikan formalnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Dari sini jugalah Natsir muda mulai bergabung dengan organisasi-organisasi kepemudaan disana. Sebut saja seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij serta Jong Islamieten Bond.

Tidak hanya aktif belajar dan bergabung dengan organisasi kepemudaan, Natsir muda juga gemar bermain biola bahkan mempelajarinya secara serius. Setelah pendidikannya di Sumatera Barat selesai, Mohammad Natsir kemudian memutuskan untuk pindah ke Bandung dan melanjutkan pendidikan disana. Di Bandung pun Natsir tetap aktif dalam kegiatan kepemudaan dengan bergabung bersama JIB Bandung. Setelah menempuh pelatihan selama  2 tahun di akademi pelatihan guru untuk warga lokal, Natsir kemudian mendapatkan izin mengajarnya.

Baca Juga:  R.A Kartini

Peran Dalam Bidang Pendidikan dan Islam

Sejak kecil, Natsir sudah dikenal sebagai sosok yang aktif dalam organisasi islam dan kepemudaan. Beliau tercatat pernah tergabung ke dalam beberapa organisasi pemuda dan islam. Berikut adalah beberapa diantaranya.

  1. Jong Islamieten Bond

Sejak menjalani pendidikan di Solok, Natsir muda sudah lebih dulu terjun dalam dunia organisasi pemuda bernama Jong Islamieten Bond. Setelah pindah untuk meneruskan pendidikan di Bandung pun, beliau masih aktif dan kembali bergabung dalam organisasi ini. Hingga kemudian pada tahun 1928 – 1932 beliau mendapat kepercayaan sebagai Ketua JIS Bandung.

  • Mendirikan Pendidikan Islam

Tak hanya aktif di bidang organisasi kepemudaan, Natsir juga memiliki ketertarikan mendalam pada dunia pendidikan dan Islam. Maka untuk memenuhi ketertarikan tersebut, Mohammad Natsir kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis islam bernama Pendidikan Islam (Pendis). Disini beliau terhitung pernah menjadi direktur selama 10 tahun sejak tahun 1932.

  • Peran Mohammad Natsir dalam Dunia Politik

Berkat kesempatan yang diberikan kepadanya menjadi seorang perdana menteri, Natsir kemudian juga memiliki kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya dalam bidang politik ini. Beliau juga merupakan salah satu tokoh yang menyampaikan pendapat tentang pentingnya menjadikan Islam sebagai ideologi atau landasan suatu negara.

Menurut pendapatnya, agama seharusnya dijadikan sebagai pondasi dalam mendirikan sebuah negara. Agama, yang mana dalam hal ini adalah Islam, bukan hanya sebuah sistem peribadatan antara manusia sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai penciptanya saja. Islam bukan hanya sebuah sistem peribadatan, namun lebih kompleks dan lebih sempurna dibandingkan itu.

Natsir berpendapat bahwa Islam dapat diterapkan dalam semua bidang atau lini kehidupan. Meski demikian, ajaran Islam tetap mengijinkan setiap manusia untuk menyatakan pandangannya dalam suatu musyawarah. Meski ingin akan adanya unsur islam di dalam tata pemerintahan Indonesia, bukan berarti Natsir tidak menghendaki adanya demokrasi.

Baca Juga:  4 Kerajaan Islam Tertua Di Indonesia

Beliau tetap menginginkan model pemerintahan yang demokratis seperti yang dijalankan saat ini. Beliau juga sepakat bahwa demokrasi memungkinkan setiap orang untuk mengedepankan keadilan, kepentingan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat tanpa pandang bulu. Beliau menekankan pendapatnya tentang persatuan antara agama dan demokrasi sebab demokrasi sendiri merupakan praktik yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

  • Penghargaan yang Diraih

Selama hidup tokoh intelektual yang vokal menyuarakan tentang islam ini banyak menerima penghargaan atas pemikirannya. Seperti penghargaan bintang Grand Gordon dari Raja Tunisia berkat perjuangan beliau dalam membantu memperjuangkan kemerdekaan Afrika Utara. Penghargaan juga pernah diberikan oleh Raja Arab melalui penghargaan Faisal Award. Serta, masih banyak penghargaan dan gelar kehormatan lain yang didapatkan.

Wafatnya Mohammad Natsir

Wafat pada tanggal 6 Februari 1993 pada usia 84 tahun di Jakarta, Mohammad Natsir pergi dengan meninggalkan pemikiran dan jasa yang besar bagi bangsa ini. Beliau juga dikenal sebagai sosok pegawai pemerintah yang sederhana. Meski menjabat sebagai perdana menteri, beliau senantiasa hidup dalam kesederhanaan. Tak ada mobil dan rumah mewah layaknya pejabat pemerintah lainnya.

Demikian biografi singkat seorang intelek dan pemikir asal Sumatera Barat, Mohammad Natsir ini. Semoga riwayat perjalanan beliau bisa senantiasa menjadi suri tauladan bagi generasi muda agar senantiasa berjuang di bidang apapun yang digelutinya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *