kisah-Arya-Penangsang

Arya Penangsang

Posted on

Kisahsejarah.id, Arya Penangsang merupakan raja demak yang ke-5. Namun belum banyak yang mengetahui tentang Arya Penangsang. Maka pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang kisah Arya Penangsang.

Arya-Penangsang

Silsilah Arya Penangsang

Arya Penangsang merupakan anak dari Surowiyoto (Raden Kikin) sering juga di kenal dengan sebutan sebagai Pangeran Sekar, yang merupakan putra dari raja pertama Demak yaitu yang bernama Raden Patah.

Selain itu ibu dari Raden Kikin adalah seorang putri raja Jipang hal ini membuat dapat mewarisi kedudukan dari kakeknya. Tidak hanya itu, Raden Patah juga mempunyai 2 putra yang bernama Adipati Unus dan Raden Trenggono.

Anak pertama Raden Patah yang bernama Adipati Kudus (Pate Unus) atau yang sering di kenal dengan Pangeran Sabrang Lor melakukan penyerangang  ke pada Malaka yang pada saat itu sedang di kuasai oleh  Portugis, hal ini terjadi pada tahun 1521. Namun dalam peperangan itu membuat beliau gugur. Sehingga membuat kedua adiknya saling merebutkan takhta, yaitu yang bernama Raden Kikin dan Raden Trenggana,

Sedangkan Raden Kikin mempunyai 2 putra yaitu yang bernama Arya Penangsang dan juga Arya Mataram. Sedangkan Raden Trenggana mempunyai anak dan anak pertama yang bernama Raden Mukmim (Sunan Prawoto).

Baca juga : Kisah Raden Patah

Tidak hanya itu Raden Mukmin juga telah membunuh pamannya pada saat sepulang dari sholat jumat yang terjadi di tepi sebuah sungai hal itu di lakukan dengan menggunakan  Keris Kyai Setan Kobar yang di dapat di curinya dari Sunan Kudus. Paman yang di bunuhnya itu yang bernama Raden Kikin, sehingga setelah kejadian hal itu maka di kenal juga dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang mempunyai arti Bunga yang gugur d sungai.

Setelah meninggalnya Raden Kikin maka Arya Penangsang yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Jipang. Namun pada ssaat itu Arya Penangsang masih anak-anak, sehingga hal itu membuat pemerintahanya di wakili oleh Patih Matahun, bersama dengam satu senopati yang bernama Senapati Kadipaten Jipang yang di kenal dengan sebutan Tohpati. Pada saat itu wilayah jipang berada di kecamatan Cepu kabupatrn Blora, yang ada di Jawa Tengah.

Pada tahun 1521 Raden Trenggana yang kemudian naik takhta menjadi Kerajaan Demak. Namun pemerintahanya berakhir pada saat beliau gugur pada saat Panarukan , Situbondo yang terjadi pada tahun 1546. Hal ini membuat Raden Mukmin menggantikan raja ke-4 yang mempunyai gelar sebagai Sunan Prawoto.

Arya Penangsang mengirimkan utusan yang bernama Rangkud untuk membunuh Sunan Prawoto dengan menggunakan Keris Kyai Setan Kober untuk dapat membalaskan kematian sang ayah. Namun Rangkud tewas pada saat terjadi saling bunuh dengan korbanya.

Baca Juga : Sunan Ampel

Kemudian setelah itu adik Sunan Prawoto yaitu Ratu Kalinyamat mendapatkan bukti bahwa Sunan Kudus juga terlibat dalam pembunuhan yang terjadi pada kakaknya. Kemudian hal itu membuat Ratu Kalinyamat datang ke Kudus untuk meminta pertanggung jawaban kepadanya. Akan tetapi jawaban yang di dapat dari Sunan Kudus ialah bahwa Sunan Prawoto mati karena karma yang di dapat. Namun jawaban itu justru membuat Ratu Kalinyamat kecewa.

Setelah itu Ratu Kalinyamat pulang bersama dengan suaminya untuk pulang ke Jepara. Namun pada saat di tengah perjalanan mereka di serbu oleh anak buah dari Arya Panangsang. Hal ini membuat suami Ratu Kalinyamat terbunuh yang bernama Hadari, dan Ratu Kalinyamat dapat meloloskan diri.

Kemudian Arya Panangsang mengirimkan empat orang utusanya agar membunuh Hadiwijaya(menantu Raden Trenggana). Akan tetapi ke empat utusanya itu dapat di kalahkan oleh Hadiwijaya dan tidak hanya itu mereka juga di pulangkan dengan cara hormat bahkan di berikan hadiah dengan pakaian prajurit.

Setelah itu Hadiwijaya mendatangi Arya Penangsang dengan tujuan untuk mengembalikan Keris Kyai Setan Kober. Namun keduanya justru terlibat di dalam pertengkaran dan akhirnya dapat di damaikan oleh Sunan Kudus.

Baca Juga : Kisah Sunan Kudus

Sayembara

Pada saat berada di perjalanan pulang menuju ke Pajang, Adipati Pajang Hadiwijaya bersama dengan rombongan singgak ke tempat Gunung Danarja tempat dimana Ratu Kalinyamat bertapa. Kemudian Ratu Kalinyamat mendesak agar Hadiwijaya dapat segera membunuh Arya Penangsang. Tidak hanya itu beliau juga berjanji akan memberikan Demak dan juga Jepara kepadanya jika dia berhasil membunuh Arya Panangsang.

Namun karena Hadiwijaya merasa dirinya hanya sebagai menantu dari keluarga Demak maka beliau enggan melakukannya. Maka di buatlah sayembara untuk membunuh Arya Panangsang dengan memberikan hadiah berupa tanah Pati dan juga Mataram bagi siapa yang berhasil membunuhnya.

Mendengar hal itu kakak Hadiwijaya yaitu Ki Ageng Pemanahan dan juga Ki Panjawi merasa tertarik dan ikut serta dalam sayembara itu. Bukan hanya itu saja putra Ki Ageng Pemanah juga ikut serta dalam sayembara itu yang bernama Sutawijaya.

Melihat hal itu kemudian Hadiwijaya mengerahkan pasukan Pajang bahkan tidak hanya itu saja beliau juga memberikan Tombak Kyai Plered, agar dapat membantu Ki Ageng Pemanahan dan putra kandungnya. untuk membunuh Arya Penangsang.

 

Kematian Arya Penangsang

Pada saat pasukan Pajang datang untuk menyerang kotaraja Jipang, pada saat itu Pangeran Arya Panangsang sedang akan berbuka puasa setelah menjalankan puasa yang di lakukan selama 40 hari. Surat tentang tantangan penyerangan yang di lakukan membuatnya tidak dapat menahan emosi lagi.

Sehingga membuat Arya Panangsang berangkat ke medan perang dengan menunggangi kuda jantan yang mempunyai nama Gagak Rimang. Kuda tersebut dengan kencang mengejar Sutawijaya yang pada saat itu menggunakan kuda betina.

Kemudian perang antara Pasukan Pajang dengan Jipang terjadi dan didekat Bengawan Sore. Di dalam perang tersebut Arya Penangsang terluka di bagian perut karena tombak yang di miliki Sutawijaya. Walaupun hal itu terjadi namun dalam menahan rasa sakitnya itu Arya Penangsang dapat bertahan dan juga berhasil meringkus Sutawijaya. Akan tetapi pada saat mencabut Keris yang akan di gunakan untuk membunuh Sutawijaya, justru terpotonglah usus Arya Panangsang, hal ini menyebabkan kematiannya. Dalam peperang yang terjadi membuat Ki Matahun dan  Patih Jipang juga gugur dan tewas, namun Arya Mataram dapat meloloskan diri.